• POLITIK
  • OLAHRAGA
  • KESEHATAN
  • GALERI
  • Info Terkini dan Terpercaya
    Home
    Nanggroe
    Kutaraja
    Pase
    Aceh

    DUNIA TIDAK MAMPU MELAWAN KEKEJAMAN ISRAIL



    bytaufiknessen

    Gaza - dibombardir tanpa henti. Rumah-rumah hancur, anak-anak mati, rakyat terusir. Dunia pun ribut. PBB bersidang. Para pemimpin mengecam. Tagar solidaritas bertebaran. Tapi Palestina tetap dijajah. Genosida tetap berlangsung. Pembantaian itu terus dibiarkan.

    Israel tahu, mereka tak tersentuh. Amerika Serikat selalu di belakang mereka. Setiap upaya menghukum Israel, dijegal dengan veto. Maka mereka terus menyerang tanpa takut. Dunia pura-pura marah, tapi tak pernah bertindak.

    Yang paling menyakitkan: para tetangga Palestina — Mesir, Arab Saudi, Turki, Suriah — justru menunjukkan wajah kemunafikan. Mereka bicara soal saudara seiman, tapi tidak satu pun sungguh berdiri. Mesir menutup Rafah. Saudi sibuk berdamai demi uang. Turki berkoar-koar, tapi tetap berdagang. Suriah tenggelam dalam konflik sendiri. Mereka bukan hanya diam — mereka berkhianat.

    Inilah contoh kemunafikan dunia: mereka hanya menangis, tapi tidak mau bersedih. Menangis di depan kamera, tapi enggan mengulurkan tangan. Bersimpati, tapi tak pernah berani membela. Dunia sibuk berdoa, tapi menolak berkorban. Mereka meratap, tapi hatinya beku.

    Dunia Islam? Banyak pemimpinnya justru tenggelam dalam kepentingan dan ketakutan. Palestina jadi bahan orasi, bukan perjuangan. Kalimat-kalimat indah di panggung internasional tak pernah berubah menjadi langkah nyata.

    Rusia dan Cina pun tak lebih baik. Dua negara besar itu berani melawan Amerika di Ukraina dan Taiwan, tapi soal Palestina, mereka hanya berkata datar. Tak ada tekanan, tak ada sanksi. Mereka menghitung untung-rugi, bukan kebenaran dan nyawa manusia. Namun semua sikap sikap negara dibnelahan dunia , hanya iran yang memiliki nyali dan berani.

    Namun tidak semua manusia bisu. Di jalan-jalan Eropa, Asia, dan Amerika Latin, rakyat biasa berdiri untuk Palestina. Mereka turun ke jalan, berani menyuarakan keadilan, meski pemerintah mereka takut. Mereka tahu siapa penjajah, siapa yang dijajah. 

    Aceh tahu rasanya dijajah. Tahu perihnya ditindas saat dunia hanya menonton. Maka membela Palestina bukan cuma empati, tapi kewajiban sejarah. Ini bukan sekadar konflik. Ini penjajahan. Ini genosida.

    Palestina tidak butuh air mata. Mereka butuh keberanian. Butuh ketegasan. Dunia telah gagal — gagal bersikap, gagal membela, gagal menjadi manusia.

    Jika dunia terus memilih diam, maka darah anak-anak Palestina akan terus mengalir — dan sejarah akan mencatat: yang bersalah bukan hanya mereka yang membunuh, tapi juga mereka yang membiarkan.