• POLITIK
  • OLAHRAGA
  • KESEHATAN
  • GALERI
  • Info Terkini dan Terpercaya
    Home
    Nanggroe
    Kutaraja
    Pase
    Aceh

    ISRAIL DAPAT KARMA

     

    Dalam sejarah panjang penjajahan atas Palestina, dunia terlalu lama menjadi saksi bisu. Terlalu lama melihat Gaza dibombardir, Tepi Barat dicekik, dan hak hidup warga Palestina dihilangkan atas nama “keamanan nasional” Israel. Namun sejarah tidak pernah tidur. Dan hari ini, sejarah sedang menulis babak baru. Israel akhirnya dapat giliran.

    Setelah sekian lama menginjakkan sepatu militernya di tanah suci milik orang lain, kini untuk pertama kalinya, suara sirine menggema bukan di Gaza, tetapi di jantung kota-kota Israel. Bukan kamp pengungsi yang hancur, melainkan kilang minyak, pusat energi, dan jaringan keuangan yang selama ini dibanggakan Israel sebagai tulang punggung kejayaannya.

    Serangan Iran kali ini bukan sekadar unjuk kekuatan. Ini adalah pernyataan lantang bahwa kejahatan tidak bisa selamanya bersembunyi di balik topeng diplomasi. Tanah yang dizalimi, cepat atau lambat, pasti akan melahirkan perlawanan.

    Kini Markas Mossad mu (dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian luar akibat gelombang kejut)Pangkalan Udara Negev (Nevatim) – Salah satu target utama. Dikenal sebagai pangkalan jet tempur F-35. Beberapa hanggar rusak ringan.Pangkalan Udara Ramon – Sistem pertahanan aktif di sini sempat kewalahan.Pangkalan Kirya, Tel Aviv – Merupakan pusat komando militer utama Israel; terjadi guncangan akibat rudal jatuh di dekatnya.Pusat Komando Iron Dome dan Arrow Defense – Dilaporkan kewalahan oleh jumlah rudal dan drone yang masuk secara serentak.

    Dan sungguh ironis—baru satu malam listrik padam, Israel langsung menyebutnya bencana besar. Baru pelabuhan mereka lumpuh, langsung disebut sebagai aksi terorisme. Padahal Gaza sudah hidup dalam gelap selama lebih dari 15 tahun, dan tak seorang pun dari mereka peduli.

    Bagaimana, Israel? Baru satu malam tak bisa mengisi daya, sudah kalang kabut? Gaza tak punya listrik bertahun-tahun. Tak punya air bersih, rumah layak, atau tempat tidur yang aman. Namun rakyatnya masih bertahan. Masih sujud. Masih hidup. Masih melawan. Kami tahu, bangsa seperti Israel tidak mudah menerima kenyataan. Terlalu lama dimanja oleh dukungan internasional. Terlalu nyaman hidup di atas luka orang lain. Tapi kali ini, dunia melihat jelas: ketika giliran itu datang kepadamu, kamu rapuh. Sangat rapuh.

    Ingatkah kamu Israil bagaimana sedih anak anak gaza, rumah tempat istirahat, rumah sekolah utuk belajarnya rumah sakit untuk berobat nya kau hancurkan bahkan hilang pondasinya.

    Bagi kami di Aceh, yang pernah merasakan pahitnya penjajahan dan getirnya perang, kami tidak bersorak atas penderitaan siapa pun. Tapi kami mengerti arti keadilan yang datang lambat. Kami tahu rasanya diam saat dizalimi. Dan kami tahu betul bagaimana rasanya ketika kebenaran akhirnya mulai bicara lewat tindakan.

    Inilah giliranmu, karmamu Israel. Giliranmu merasakan getirnya menjadi sasaran. Bukan untuk dibalas dendam, tapi agar kamu belajar—jika masih ada ruang untuk belajar.

    Semoga peristiwa ini menjadi isyarat bahwa langit telah mulai bergerak. Bahwa kezaliman mu, sekuat apa pun, tetap akan runtuh di hadapan keteguhan hati mereka yang tertindas.

    Aceh pernah bangkit dari reruntuhan. Gaza pun akan. Tapi Israel—apakah kamu bisa bangkit dari kesombonganmu sendiri?

     by taufiknessen