ISRAIL DAPAT KARMA
Dalam sejarah panjang penjajahan atas Palestina, dunia terlalu lama
menjadi saksi bisu. Terlalu lama melihat Gaza dibombardir, Tepi Barat dicekik,
dan hak hidup warga Palestina dihilangkan atas nama “keamanan nasional” Israel.
Namun sejarah tidak pernah tidur. Dan hari ini, sejarah sedang menulis babak
baru. Israel akhirnya dapat giliran.
Setelah sekian lama menginjakkan sepatu militernya di tanah suci milik
orang lain, kini untuk pertama kalinya, suara sirine menggema bukan di Gaza,
tetapi di jantung kota-kota Israel. Bukan kamp pengungsi yang hancur, melainkan
kilang minyak, pusat energi, dan jaringan keuangan yang selama ini dibanggakan
Israel sebagai tulang punggung kejayaannya.
Serangan Iran kali ini bukan sekadar unjuk kekuatan. Ini adalah
pernyataan lantang bahwa kejahatan tidak bisa selamanya bersembunyi di balik
topeng diplomasi. Tanah yang dizalimi, cepat atau lambat, pasti akan melahirkan
perlawanan.
Kini Markas Mossad mu (dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian
luar akibat gelombang kejut)Pangkalan Udara Negev (Nevatim) – Salah satu
target utama. Dikenal sebagai pangkalan jet tempur F-35. Beberapa hanggar rusak
ringan.Pangkalan Udara Ramon – Sistem pertahanan aktif di sini sempat
kewalahan.Pangkalan Kirya, Tel Aviv – Merupakan pusat komando militer
utama Israel; terjadi guncangan akibat rudal jatuh di dekatnya.Pusat Komando
Iron Dome dan Arrow Defense – Dilaporkan kewalahan oleh jumlah rudal dan
drone yang masuk secara serentak.
Dan sungguh ironis—baru satu malam listrik padam, Israel langsung
menyebutnya bencana besar. Baru pelabuhan mereka lumpuh, langsung disebut
sebagai aksi terorisme. Padahal Gaza sudah hidup dalam gelap selama lebih dari
15 tahun, dan tak seorang pun dari mereka peduli.
Bagaimana, Israel? Baru satu malam tak bisa mengisi daya, sudah kalang
kabut? Gaza tak punya listrik bertahun-tahun. Tak punya air bersih, rumah
layak, atau tempat tidur yang aman. Namun rakyatnya masih bertahan. Masih
sujud. Masih hidup. Masih melawan. Kami tahu, bangsa seperti Israel tidak
mudah menerima kenyataan. Terlalu lama dimanja oleh dukungan internasional.
Terlalu nyaman hidup di atas luka orang lain. Tapi kali ini, dunia melihat
jelas: ketika giliran itu datang kepadamu, kamu rapuh. Sangat rapuh.
Ingatkah kamu Israil bagaimana sedih anak anak gaza, rumah tempat
istirahat, rumah sekolah utuk belajarnya rumah sakit untuk berobat nya kau
hancurkan bahkan hilang pondasinya.
Bagi kami di Aceh, yang pernah merasakan pahitnya penjajahan dan
getirnya perang, kami tidak bersorak atas penderitaan siapa pun. Tapi kami
mengerti arti keadilan yang datang lambat. Kami tahu rasanya diam saat
dizalimi. Dan kami tahu betul bagaimana rasanya ketika kebenaran akhirnya mulai
bicara lewat tindakan.
Inilah giliranmu, karmamu Israel. Giliranmu merasakan getirnya menjadi
sasaran. Bukan untuk dibalas dendam, tapi agar kamu belajar—jika masih ada
ruang untuk belajar.
Semoga peristiwa ini menjadi isyarat bahwa langit telah mulai bergerak.
Bahwa kezaliman mu, sekuat apa pun, tetap akan runtuh di hadapan keteguhan hati
mereka yang tertindas.
Aceh pernah bangkit dari reruntuhan. Gaza pun akan. Tapi Israel—apakah
kamu bisa bangkit dari kesombonganmu sendiri?
by taufiknessen
