"SEMUA TAKUT SAMA TANAH BLANG PADANG"
Aceh tidak hanya kaya tanah dan laut, tapi juga kaya
kehormatan. Harga diri, atau marwah, dalam bahasa kita, bukan sesuatu yang bisa
ditukar dengan dokumen, apalagi sekadar meteran tanah.
Karena itu, saat rakyat Aceh mendengar bahwa empat
pulau—Panjang, Lipan, Mangkir Gadang, dan Mangkir Ketek—berhasil dikembalikan
ke pangkuan Aceh, bukan hanya tepuk tangan yang terdengar. Tapi juga suara hati
yang berkata:
"Kalau pulau di tengah laut bisa kembali, kenapa Blang
Padang yang tinggal di depan hidung sendiri belum juga jelas?"
Beberapa Gubernur Aceh Masa Lalu lebih senang memotong pita di
tempat-tempat yang jauh dari pusat rakyat. Di atas bukit, di pinggir pantai,
atau bahkan di Pulau yang hampir tidak ada sinyal. Tapi kalau urusannya Blang
Padang? Wah, langsung pura-pura sibuk kirim WhatsApp ke menteri.
Empat pulau itu letaknya jauh. Sebagian tak ada
sinyal—jangankan WiFi, ayam berkokok pun mungkin telat dengar. Tapi tetap bisa
diperjuangkan.Sementara Blang Padang, yang lokasinya sudah muncul di Google
Maps, Waze, dan tiap acara CFD, statusnya justru tak kunjung beres.
Membingungkan. Apakah tanah ini terlalu sakral? Atau
jangan-jangan tanah ini angker dan seram?Lebih heran lagi, sejak bertahun-tahun
lalu, tak satu pun gubernur benar-benar berani menyentuh Blang Padang secara
tuntas. Seolah tanah ini mengandung aliran listrik tegangan tinggi—baru
didekati saja sudah bikin keringat dingin.
Ada yang bilang, “Tanahnya terlalu rumit!”Ada pula yang
bisik-bisik, “Jangan diusik, nanti… repot!”
Tapi kita, rakyat Aceh, paham:Kadang yang rumit itu bukan
tanahnya—tapi niatnya.
Kini, harapan kembali tertuju pada Mualem. Sosok yang ditempa
dari perjuangan, bukan sekadar pemimpin atas nama. Jika beliau bisa
mengembalikan empat pulau yang nyaris hanyut dari peta Aceh, rakyat percaya:
Blang Padang pun bisa diperjelas tanpa harus menginjak bara api.
Karena Blang Padang bukan cuma taman. Ia panggung sejarah,
tempat rakyat bersuara, tempat bangsa berdiri, tempat selfie berlatar bendera,
dan—kadang—tempat jemur ikan asin saat listrik padam (waktu dulu).
Tapi serius: ini tanah saksi perjuangan rakyat.
Dan seperti kata orang tua: "Tanah bisa dibeli.
Tapi sejarah? Tak bisa ditukar."
Kini tinggal satu langkah lagi.Mualem tinggal memilih:
menjadi gubernur biasa yang lewat tanpa bekas, atau pemimpin yang menorehkan
jejak panjang dalam hati rakyat.
Karena sejatinya, pemimpin bukanlah dia yang hanya punya
mimpi, tapi dia yang berani menuntaskan mimpi rakyat.
Jangan sampai rakyat kecewa dan berkata:"Kami kira
abang datang sebagai penuntun sejarah—ternyata hanya numpang lewat, seperti
pejabat lainnya."
Tapi kami percaya, tidak.Mualem bukan pelengkap baliho, bukan
pengisi absen rapat, bukan penunggu jabatan.Ia datang dari rahim perjuangan—dan
harus kembali dengan warisan kehormatan.
Jika kelak tanah Blang Padang kembali kepada rakyat—dengan
status yang jelas, kepemilikan yang sah, dan semangat yang utuh—maka rakyat
Aceh akan menyambutnya, bukan hanya dengan syukur, tapi dengan air mata haru.
Karena akhirnya, ada pemimpin yang benar-benar memimpin.Dan
mungkin, di hari itu, kita bisa menancapkan sebuah prasasti kecil di Blang
Padang, bertuliskan:
“Di sinilah marwah Aceh ditegakkan kembali—oleh pemimpin, bukan oleh Pemimpi..
bytaufiknessen
