• POLITIK
  • OLAHRAGA
  • KESEHATAN
  • GALERI
  • Info Terkini dan Terpercaya
    Home
    Nanggroe
    Kutaraja
    Pase
    Aceh

    ISRAIL SALAH PILIH LAWAN


    Kalo Kemarin Netanyahu suka cari lawan dengan Hamas, Libanon dan Hizbullah, kayaknya kini dia telah ketemu lawan yang sempurna. Yaitu iran.

    Dalam dunia politik, salah ambil keputusan bisa berujung debat. Tapi kalau salah pilih lawan, apalagi lawannya Iran, akibatnya bisa meledak — harfiah. Israel tampaknya sedang belajar pelajaran ini dengan cara paling keras: dihujani rudal, bukan dikirimi surat cinta diplomatik.

    Menurut laporan terbaru dari Al Jazeera, hingga hari ini Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti mengirimkan rudal balistiknya ke wilayah Israel. Seolah-olah mereka kirim rudal seperti kita kirim paket JNE: satu hari satu kiriman. Iran bahkan menyampaikan dengan cukup lugas bahwa serangan ini akan terus berlanjut… sampai Netanyahu almarhum.

    Ya, Anda tidak salah baca. Bukan sampai Netanyahu lengser, atau tobat, atau insaf — tapi almarhum. Kalimat ini jelas bukan basa-basi. Ini bentuk dari kemarahan yang sudah ditabung puluhan tahun. Iran melihat Netanyahu bukan sekadar pemimpin politik, tapi simbol dari segala penderitaan Palestina dan konflik yang tak kunjung selesai di Timur Tengah.

    Sementara itu Netanyahu, yang dulu suka tampil percaya diri dengan jas rapi dan bahasa tubuh ala jenderal, sekarang mungkin sibuk buka aplikasi Waze buat cari bunker terdekat. Ia mungkin baru sadar bahwa Iran bukan musuh ecek-ecek yang bisa ditakut-takuti dengan embargo atau pidato di PBB. Ini negara yang kalau bilang “tunggu pembalasan”, maka akan ada roket yang menyusul, bukan sekadar status media sosial.

    Yang bikin kita di Aceh ikut tegang, rudal Iran itu daya jangkauannya jauh. Jangan-jangan nyasar, lewat India, terus belok ke arah Simeulue. Bisa-bisa warga Aceh harus bikin grup WA baru: “Waspada Rudal Nyasar.” Jadi, kita mohon ke pihak Iran: tolong setting koordinatnya benar ya, jangan sampai rudal yang diniatkan buat Netanyahu malah mendarat di halaman masjid kampung kami.

    Tentu kita tidak mendukung kekerasan. Tapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa selama Netanyahu masih memimpin, Iran tidak akan berhenti menembakkan rudalnya. Ini bukan sekadar konflik politik biasa. Ini soal harga diri negara, dendam sejarah, dan perhitungan masa lalu yang belum lunas.

    Israel mungkin berpikir mereka bisa menekan Iran seperti mereka tekan Gaza. Tapi mereka salah besar. Iran punya industri rudal sendiri, dan mereka kelihatan senang banget mencoba semua varian — seolah-olah sedang ikut lomba “uji coba produk nasional”.

    Dan sementara dunia bingung mencari solusi, kita hanya bisa berharap satu hal: semoga damainya lebih cepat dari roket. Karena kalau tidak, sepertinya Iran akan terus menyerang... sampai Netanyahu pensiun dari dunia — bukan dari politik, tapi dari kehidupan.

    by Taufik Nessen