LANGKAH TEPAT PAK PRABOWO DALAM KEPUTUSAN 4 PULAU
Warung kopi di Aceh bukan cuma tempat ngopi, tapi juga "lembaga tinggi negara" tempat segala keputusan penting dibahas. Mulai dari nasib timnas sampai urusan tapal batas. Nah, sejak heboh keputusan Mendagri soal empat pulau di Aceh Singkil yang katanya "diberikan" ke Sumatra Utara, suhu warung kopi langsung naik. Kopi panas kalah panas.
Rakyat Aceh, yang biasanya tenang sambil nyeruput kopi, mulai gelisah. Nada-nada tinggi terdengar di warung, bukan karena debat bola atau tarif listrik, tapi karena rasa kecewa dan tersinggung. “Kok bisa tanah kami, pulau kami, tiba-tiba bukan milik kami?” begitu kira-kira gumaman sebagian masyarakat. Dan gumaman itu nyaris berubah jadi gerakan massa kalau pemerintah pusat lambat tanggap.
Di tengah kegelisahan itu, langkah Pak Prabowo layak diberi dua jempol. Bahkan kalau boleh, kita beri standing ovation—tapi nanti sajalah, takut dikira kampanye. Ketika masyarakat Aceh mulai bersiap-siap turun ke jalan, Presiden Prabowo langsung mengambil alih kasus ini dari tangan Mendagri. Sebuah langkah yang tidak hanya sigap, tapi juga penuh perhitungan.
Bayangkan kalau telat satu hari saja, bisa-bisa bukan hanya demo yang terjadi, tapi juga keretakan baru antara Aceh dan Jakarta. Dan kita tahu, hubungan Aceh–pusat itu seperti hubungan mantan yang baru baikan: harus ekstra hati-hati. Sedikit salah bicara, bisa kembali ribut.
Prabowo hadir sebagai penengah yang bijak. Beliau menyampaikan akan menyelesaikan masalah ini secara adil, dengan mendengar semua pihak. Ini penting, karena pulau itu bukan sekadar titik di peta, tapi ada masyarakatnya, ada sejarahnya, dan ada rasa kepemilikan yang tak bisa diganti dengan selembar surat keputusan.
Sikap cepat dan tegas ini menunjukkan bahwa Pak Prabowo paham betul bahwa menjaga keutuhan bangsa itu bukan cuma soal menjaga wilayah, tapi juga menjaga hati rakyatnya. Dan hati orang Aceh bukan sembarang hati—kalau sudah terluka, bisa lama sembuhnya. Tapi kalau diberi penghargaan dan keadilan, loyalitasnya luar biasa.
Langkah ini juga jadi sinyal baik untuk awal masa pemerintahan beliau. Bahwa Presiden tidak alergi kritik dan siap mendengar suara dari daerah, bahkan yang nadanya tinggi sekalipun. Aceh menyambut baik sikap ini. Dan untuk sementara, suasana warung kopi kembali tenang. Kopi bisa diseruput lagi tanpa rasa dongkol.
Sekarang tinggal ditunggu: bagaimana hasil akhir dari peninjauan ulang keputusan itu. Kita berharap hasilnya berpihak pada fakta, sejarah, dan rasa keadilan. Tapi satu hal sudah jelas: keputusan cepat Pak Prabowo menyelamatkan situasi. Seandainya semua pejabat pusat secepat ini tanggapnya, mungkin rakyat tak perlu banyak demo. Cukup bahas di warung kopi saja, sambil ngopi dan makan timphan.
by taufik nessen
