• POLITIK
  • OLAHRAGA
  • KESEHATAN
  • GALERI
  • Info Terkini dan Terpercaya
    Home
    Nanggroe
    Kutaraja
    Pase
    Aceh

    BENARKAH PRABOWO DAN MUALEM SAHABAT SEJATI ?


    Di tengah riuhnya kabar pemindahan empat pulau Aceh ke Sumatera Utara, rakyat Aceh kembali teringat pada sebuah kalimat yang pernah membuat hati kami hangat: “Saya punya sahabat dekat, Tgk. Mualem,” ujar Prabowo saat masa kampanye dulu. Ucapan itu seolah membawa harapan baru—bahwa Aceh, yang selama ini merasa terpinggirkan, akan mendapat tempat istimewa di mata seorang presiden yang menyebut dirinya sahabat. 

    Dan harapan itu tumbuh, terutama ketika Prabowo berdiri di panggung bersama Tgk. Mualem. Saat menyapa rakyat Aceh, wajah mereka penuh senyum, dan rakyat percaya bahwa ketika Prabowo menang, perhatian terhadap Aceh akan lebih besar. 

    Tapi kini, harapan itu mulai pudar. Ketika empat pulau yang selama ini tercatat dalam wilayah Aceh Singkil tiba-tiba "dipindahkan" ke Sumatera Utara melalui keputusan Mendagri, rakyat Aceh tersentak.

    Prabowo, kini sebagai presiden, diam. Tidak ada pernyataan, tidak ada sikap, bahkan sepotong panggilan kepada sahabatnya pun tak terdengar. 

    Padahal, di saat pertama kali menyapa Tgk. Mualem dalam kampanye, rakyat Aceh sudah menggantungkan harapan: "Jika Prabowo terpilih, Aceh akan diperlakukan istimewa." Namun sampai hari ini, perhatian itu belum terlihat. 

    Yang terasa justru luka baru, ketika sebagian wilayah kami diputuskan secara sepihak—tanpa diskusi, tanpa pertimbangan yang transparan. Di sinilah pertanyaan itu lahir: Benarkah mereka sahabat sejati? Atau hanya teman seperjalanan politik yang berhenti setelah pemilu usai? Sebab dalam adat dan budaya Aceh, seorang sahabat hadir saat badai datang. 

    Seorang pemimpin, apalagi sahabat, tak seharusnya diam ketika harga diri rakyat terinjak. Empat pulau bukan sekadar gugusan tanah. Ia bagian dari marwah, sejarah, dan identitas kami. 

    Kami tak meminta hal besar. Kami hanya ingin melihat bahwa Prabowo peduli. Setidaknya, cukup dengan satu panggilan kepada Tgk. Mualem: "Apa yang terjadi sebenarnya di lapangan? Saya akan pastikan ini dikaji ulang." Sebaris kalimat seperti itu, dari seorang sahabat, sangat berarti bagi Aceh. 

    Kami ingin percaya bahwa di balik sikap tenang Prabowo, ada ruang dalam hati beliau untuk melihat persoalan ini secara adil. Bahwa diam bukanlah jawaban yang layak ketika keadilan sedang digugat. 

    Presiden Prabowo masih punya waktu untuk membuktikan bahwa persahabatan itu nyata. Bahwa apa yang dilakukan Mendagri Tito Karnavian adalah keliru. Bahwa Aceh bukan sekadar daerah pemilih, tapi bagian dari jiwa dan semangat Indonesia yang harus dijaga. 

    Karena jika tidak, maka rakyat Aceh akan mencatat sejarah ini dengan getir—bahwa di masa sahabat berkuasa, pulau kami hilang dari peta, tanpa suara pembelaan.

    by taufik nessen