Gas 3 Kilo Kembali Langka, Drama Tahunan berulang lagi.
Oleh: TaufikNessen
Setiap akhir tahun, kisah
lama ini selalu diputar ulang tanpa jeda: kelangkaan gas 3 kilogram.Ibarat
sinetron tahunan, ceritanya sama, tokohnya juga tak berganti—hanya tanggal dan
alasannya yang berubah.
Begitu masuk Oktober,
keluhan mulai terdengar dari dapur sampai warung kopi.“Gas susah dapat, Bang,”
kata ibu-ibu di gampong sambil menenteng tabung kosong.
Padahal dua bulan
sebelumnya, gas 3 kilo justru berlimpah—bahkan toke gas sempat mengeluh karena
stok tak laku dijual.
Tapi begitu akhir tahun
tiba, tabung hijau seolah menguap entah ke mana.Dan seperti biasa, muncul lagi
kalimat sakti dari pejabat:> “Gas 3 kilo hanya untuk orang miskin.”Kalimat
yang seolah jadi mantra tiap kali pasokan menipis.Padahal rakyat kecil hanya
ingin menanak nasi, bukan berebut subsidi.
Yang lucu, rakyat miskin
disuruh hemat, sementara yang menimbun tak pernah diperiksa.Setiap kali langka,
pemerintah bilang stok aman, agen menyalahkan cuaca, dan dinas berdalih
distribusi terganggu.
Tapi pertanyaannya: kalau
di awal tahun gas bisa banjir, kenapa di akhir tahun selalu kering?Apakah orang
Aceh tiba-tiba jadi lebih sering masak di bulan Desember?
Atau ada “tangan-tangan
halus” yang sengaja memelintir alur distribusi agar aroma langka bisa dijual
lebih mahal?
Kita semua tahu
jawabannya, tapi pura-pura tak tahu siapa yang bermain.Gas 3 kilo sudah lama
bukan cuma urusan dapur, tapi juga urusan proyek dan keuntungan.
Selama kebocoran di
sistem distribusi dibiarkan, kelangkaan akan terus jadi ritual tahunan yang
diwariskan.
Di warung kopi, obrolan
tentang gas kini cuma bahan tawa getir.Seseorang bergurau, “Mungkin gasnya juga
ingin libur akhir tahun.”Semua tertawa, tapi di baliknya tersimpan keluh yang
sama: rakyat kecil kembali antre dengan tabung kosong.
Kalau tahun depan drama
ini tayang lagi, jangan kaget.Karena di negeri tabung hijau ini, kelangkaan
bukan lagi masalah, tapi kebiasaan.
Dan selama kebijakan
hanya ditulis, bukan dijalankan, rakyat kecil akan tetap menanak nasi dengan
doa—
semoga gas datang sebelum
lapar datang.