JAUHI TAKLID
Taufik Al-Fath membagikan kiriman Said Mahyiddin Muhammad .
Said Mahyiddin MuhammadMuhammad
JAUHILAH TAQLID DALAM BERAGAMA (1)
Definisi Taqlid
Secara bahasa kata taqlid adalah fi’il madhi yang berarti “mengalungkan sesuatu di leher.” Biasanya bila leher sudah dimasuki sebuah kalung, maka ibarat lembu, bisa diseret kemana saja oleh orang yang menggembalakannya. Menurut Istilah, taqlid sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Humam, sebagai berikut:
ﺍَﻟﺘَّﻘْﻠِﻴْﺪُ ﺃَﻟﻌَﻤَﻞُ ﺑِﻘَﻮْﻝِ ﻣَﻦْ ﻟَﻴْﺲَ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺍِﺣْﺪَﻱ ﺍﻟﺤُﺠَﺞِ ﺑِﻸَ ﺣُﺠَّﺔٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ
Taqlid adalah beramal dengan pendapat seseorang, yang pendapatnya itu bukan hujjah, tanpa mengetahui hujjahnya. (Amir Syarifuddin: 2008, hal. 402).
Hujjah yang dimaksud dalam definisi di atas adalah Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah s.aw. Sedangkan pendapat seorang Mujtahid bukanlah hujjah. Karenanya pendapat Imam-Imam Mujtahid boleh diterima dan boleh ditolak. Yang tidak boleh ditolak hanya Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w, yang maqbul (yang diterima sesuai dengan syarat-syarat keshahihan hadits).
Taqlid buta adalah mengikuti atau mengamalkan ajaran Islam dengan berpegang pada pendapat orang lain, tanpa mengetahui sumbernya dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w. Orang yang bertaqlid buta biasanya mengamalkan ajaran agamanya lebih karena ikut-ikutan. Mereka hanya mengikuti kebiasaan-kebiasaan masyarakat umum mengamalkan agama, tanpa mempertanyakan apakah Rasulullah s.a.w. ada mengajarkannya atau tidak.
Lawan dari taqlid adalah Ittiba’.
Pengertian Ittiba’ adalah mengamalkan ajaran Islam dengan perpegang pada hujjah (ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah s.a.w,), meski pun lewat penyampaian orang lain. Orang-orang yang berittiba’ adalah mereka yang menjadikan Rasulullah s.a.w, sebagai patron dalam beragama untuk mendapatkan ridha Allah semata-mata. Setiap pendapat selalu diukur dengan sunnah Rasulullah s.a.w, yang maqbul. Jika pendapat tersebut sesuai dengan sunnah, maka pendapat tersebut diamalkan. Dan jika tidak sesuai, pendapat tersebut ditinggalkan.
Hari ini jam 5:42 · Privasi: Publik
Said Mahyiddin MuhammadMuhammad
JAUHILAH TAQLID DALAM BERAGAMA (1)
Definisi Taqlid
Secara bahasa kata taqlid adalah fi’il madhi yang berarti “mengalungkan sesuatu di leher.” Biasanya bila leher sudah dimasuki sebuah kalung, maka ibarat lembu, bisa diseret kemana saja oleh orang yang menggembalakannya. Menurut Istilah, taqlid sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Humam, sebagai berikut:
ﺍَﻟﺘَّﻘْﻠِﻴْﺪُ ﺃَﻟﻌَﻤَﻞُ ﺑِﻘَﻮْﻝِ ﻣَﻦْ ﻟَﻴْﺲَ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺍِﺣْﺪَﻱ ﺍﻟﺤُﺠَﺞِ ﺑِﻸَ ﺣُﺠَّﺔٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ
Taqlid adalah beramal dengan pendapat seseorang, yang pendapatnya itu bukan hujjah, tanpa mengetahui hujjahnya. (Amir Syarifuddin: 2008, hal. 402).
Hujjah yang dimaksud dalam definisi di atas adalah Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah s.aw. Sedangkan pendapat seorang Mujtahid bukanlah hujjah. Karenanya pendapat Imam-Imam Mujtahid boleh diterima dan boleh ditolak. Yang tidak boleh ditolak hanya Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w, yang maqbul (yang diterima sesuai dengan syarat-syarat keshahihan hadits).
Taqlid buta adalah mengikuti atau mengamalkan ajaran Islam dengan berpegang pada pendapat orang lain, tanpa mengetahui sumbernya dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi s.a.w. Orang yang bertaqlid buta biasanya mengamalkan ajaran agamanya lebih karena ikut-ikutan. Mereka hanya mengikuti kebiasaan-kebiasaan masyarakat umum mengamalkan agama, tanpa mempertanyakan apakah Rasulullah s.a.w. ada mengajarkannya atau tidak.
Lawan dari taqlid adalah Ittiba’.
Pengertian Ittiba’ adalah mengamalkan ajaran Islam dengan perpegang pada hujjah (ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah s.a.w,), meski pun lewat penyampaian orang lain. Orang-orang yang berittiba’ adalah mereka yang menjadikan Rasulullah s.a.w, sebagai patron dalam beragama untuk mendapatkan ridha Allah semata-mata. Setiap pendapat selalu diukur dengan sunnah Rasulullah s.a.w, yang maqbul. Jika pendapat tersebut sesuai dengan sunnah, maka pendapat tersebut diamalkan. Dan jika tidak sesuai, pendapat tersebut ditinggalkan.
Hari ini jam 5:42 · Privasi: Publik
